
Singapura memiliki salah satu tingkat diabetes tertinggi di antara negara-negara maju. Menurut Kementerian Kesehatan Singapura, sekitar satu dari tiga warga Singapura akan mengalami diabetes dalam hidupnya. Banyak orang sudah hidup dengan kondisi ini dan secara umum mengelolanya dengan cukup baik: kadar gula darah dipantau, obat-obatan dikonsumsi, dan perubahan gaya hidup telah dilakukan.
Namun, bahkan pada orang yang secara aktif mengelola diabetesnya, komplikasi dapat berkembang secara diam-diam. Komplikasi ini cenderung tidak muncul dengan gejala yang dramatis. Perkembangannya berlangsung secara bertahap melalui perubahan pada mata, kaki, dan keseimbangan metabolisme tubuh, sering kali selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun sebelum mulai disadari. Pada saat gejala muncul, sebagian kerusakan mungkin sulit untuk dipulihkan.
Artikel ini membahas tiga area tubuh yang dapat terdampak diabetes dan sering kali kurang mendapat perhatian: penglihatan, kesehatan kaki, dan kontrol metabolisme. Memahami apa yang terjadi pada masing-masing area dan mengapa perawatan terkoordinasi oleh dokter spesialis sangat penting merupakan dasar untuk mengelola diabetes secara menyeluruh, bukan sekadar menanganinya ketika masalah sudah muncul.
1. Mata Anda: Perkembangan Retinopati Diabetik yang Diam-Diam
Mata merupakan salah satu organ pertama yang terdampak oleh kadar gula darah tinggi yang berlangsung terus-menerus, dan juga termasuk yang paling signifikan. Retinopati diabetik adalah kondisi ketika pembuluh darah kecil pada retina, yaitu lapisan peka cahaya di bagian belakang mata, mengalami kerusakan akibat kadar gula darah yang tinggi secara kronis.
Hal yang membuat kondisi ini sulit dideteksi sendiri oleh pasien adalah retinopati pada tahap awal tidak menimbulkan gejala sama sekali. Penglihatan tetap jelas. Tidak ada rasa sakit. Perubahan yang terjadi di dalam mata sepenuhnya tidak terlihat tanpa pemeriksaan oleh dokter spesialis. Saat penglihatan kabur, muncul floaters, atau gangguan penglihatan mulai terasa, kondisi biasanya sudah berkembang ke tahap yang lebih lanjut.
Bagaimana Retinopati Diabetik Berkembang

Kadar gula darah yang terus tinggi merusak dinding kapiler kecil yang memasok darah ke retina. Pembuluh darah ini dapat mengalami kebocoran cairan, membengkak, atau pada tahap yang lebih lanjut, tersumbat sepenuhnya. Retina merespons berkurangnya aliran darah dengan membentuk pembuluh darah baru yang rapuh melalui proses yang disebut neovaskularisasi. Pembuluh darah baru ini secara struktural lemah dan rentan mengalami perdarahan, yang kemudian dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.
Kondisi ini dibagi menjadi tahap non-proliferatif (tahap awal, ketika pembuluh darah mengalami kebocoran tetapi pertumbuhan pembuluh darah baru belum terjadi) hingga proliferatif (tahap lanjut, ketika pertumbuhan pembuluh darah abnormal sudah terjadi). Edema makula diabetik, yaitu penumpukan cairan di bagian tengah retina yang bertanggung jawab atas penglihatan tajam, dapat terjadi pada tahap apa pun dan merupakan salah satu penyebab utama gangguan penglihatan yang signifikan pada penderita diabetes.
Mengapa Pemeriksaan Mata Tahunan Sangat Penting
Alasan dokter spesialis mata menekankan pemeriksaan mata dengan dilatasi pupil setiap tahun bagi semua penderita diabetes cukup sederhana: pengobatan jauh lebih efektif ketika retinopati terdeteksi sejak dini. Terapi laser, suntikan anti-VEGF, dan pengelolaan kadar gula darah yang cermat pada tahap non-proliferatif dapat memperlambat atau menghentikan perkembangannya secara signifikan. Pada tahap proliferatif, pilihan pengobatan masih tersedia, tetapi hasilnya kurang dapat diprediksi dan tindakan yang diperlukan dapat lebih invasif. Pemeriksaan tahunan dengan dokter spesialis mata merupakan cara yang paling dapat diandalkan untuk mendeteksi retinopati sebelum memengaruhi penglihatan Anda.
Kondisi Mata Lain yang Berkaitan dengan Diabetes
Retinopati memang paling sering dibahas, tetapi diabetes juga meningkatkan risiko beberapa kondisi mata lainnya. Katarak cenderung muncul lebih dini dan berkembang lebih cepat pada penderita diabetes, kemungkinan akibat perubahan osmotik pada lensa mata. Glaukoma, yang melibatkan kerusakan pada saraf optik, juga lebih sering terjadi pada pasien diabetes. Semua kondisi tersebut dapat dideteksi melalui pemeriksaan mata rutin oleh dokter spesialis, yang menjadi alasan lain mengapa pemeriksaan berkala penting, bukan hanya untuk skrining retinopati.
2. Kaki Anda: Mengapa Komplikasi Kaki Akibat Diabetes Dapat Berkembang Lebih Cepat dari yang Diperkirakan
Dalam banyak hal, kaki merupakan bagian tubuh yang paling jauh dari jantung dan dari organ-organ yang biasanya terpikirkan ketika membahas diabetes. Kaki juga termasuk bagian tubuh yang paling rentan, karena berkaitan langsung dengan dua komplikasi diabetes yang paling umum: neuropati perifer dan penyakit arteri perifer.
Neuropati Perifer: Ketika Sistem Peringatan Tubuh Terganggu
Neuropati perifer adalah kerusakan saraf yang memengaruhi bagian tubuh di ujung anggota gerak, paling sering kaki dan tungkai bawah. Kondisi ini berkembang seiring waktu akibat kadar gula darah yang terus tinggi, yang memengaruhi kemampuan saraf untuk berfungsi dan beregenerasi. Gejalanya dapat berbeda-beda: beberapa orang mengalami kesemutan, rasa terbakar, atau nyeri tajam yang menjalar. Sementara itu, yang lain mengalami mati rasa secara bertahap dan berkurangnya kemampuan untuk merasakan suhu, tekanan, atau nyeri.
Kondisi berupa mati rasa memiliki risiko paling besar untuk menyebabkan cedera serius. Nyeri merupakan sinyal dari tubuh bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ketika sinyal tersebut tidak muncul atau berkurang, cedera yang biasanya akan segera mendapat perhatian dapat tidak disadari. Lepuhan akibat sepatu yang tidak pas, luka kecil akibat ujung kuku, atau kerikil yang masuk ke dalam kaus kaki, semuanya dapat menjadi jalan masuk bagi infeksi ketika seseorang tidak dapat merasakannya.
Sirkulasi Darah yang Buruk: Mengapa Luka Kecil Dapat Menjadi Masalah Besar
Penyakit arteri perifer, yaitu penyempitan dan pengerasan pembuluh darah yang memasok darah ke tungkai bawah, jauh lebih sering terjadi pada penderita diabetes. Berkurangnya aliran darah membuat respons tubuh terhadap infeksi terganggu dan memperlambat penyembuhan luka. Luka yang mungkin sembuh dalam satu minggu pada orang tanpa diabetes dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan pada seseorang dengan diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dan penyakit arteri yang signifikan. Jika tidak ditangani, ulkus kaki diabetik dapat dengan cepat berkembang menjadi infeksi jaringan yang lebih dalam.

Rangkaian Komplikasi yang Dapat Terjadi Setelah Luka Kecil
Kombinasi berkurangnya sensasi dan sirkulasi darah menciptakan kondisi yang berbahaya. Luka kecil atau kerusakan kulit yang tidak disadari akibat neuropati juga lebih sulit ditangani oleh tubuh karena sirkulasi darah yang buruk. Bakteri yang masuk melalui kulit yang terluka dapat berkembang di lingkungan setempat yang kurang mampu melawan infeksi. Infeksi kemudian dapat menyebar ke jaringan yang lebih dalam dan berpotensi mencapai tulang.
Komplikasi kaki akibat diabetes, termasuk ulkus kaki dan konsekuensi yang lebih serius yang dapat mengikutinya, merupakan salah satu penyebab utama amputasi tungkai bawah nontraumatik di Singapura. Kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ini merupakan hasil dari proses yang dimulai dari masalah-masalah kecil yang sebenarnya dapat ditangani tetapi tidak teridentifikasi dan ditangani tepat waktu.
Manfaat Pemeriksaan Kaki Secara Rutin oleh Podiatris
Pemeriksaan kaki secara rutin oleh podiatris bagi penderita diabetes mencakup jauh lebih banyak daripada sekadar memotong kuku. Skrining kaki diabetik yang terstruktur meliputi pemeriksaan sirkulasi (menggunakan Doppler untuk menilai aliran darah), sensasi (menggunakan monofilamen dan pemeriksaan getaran untuk mendeteksi neuropati), kondisi kulit, kesehatan kuku, struktur kaki, serta alas kaki. Pemeriksaan ini memberikan gambaran lengkap mengenai tingkat kerentanan kaki pada waktu tertentu dan membantu mengidentifikasi tanda-tanda peringatan dini sebelum berkembang menjadi komplikasi.
Penderita diabetes disarankan menjalani pemeriksaan kesehatan kaki secara khusus dengan podiatris setidaknya sekali setahun, atau lebih sering jika sudah terdapat neuropati, ulkus, atau masalah sirkulasi.
Penderita diabetes sebaiknya memeriksa kaki setiap hari: bagian atas, telapak, tumit, serta sela-sela jari kaki. Setiap luka, lepuhan, kemerahan, pembengkakan, atau area yang terasa lebih hangat dari biasanya perlu segera diperiksakan oleh tenaga kesehatan, terlepas dari ada atau tidaknya rasa nyeri.
Kuku, Kulit, dan Alas Kaki: Hal-Hal Kecil yang Menjadi Lebih Penting pada Diabetes
Kondisi kuku dan kulit yang mungkin hanya menjadi gangguan ringan bagi kebanyakan orang memiliki risiko yang jauh lebih tinggi bagi penderita diabetes. Kuku kaki yang tumbuh ke dalam dan mengalami infeksi, mata ikan atau kapalan yang mengalami kerusakan, atau infeksi jamur pada kuku yang mengubah bentuk kuku dan meningkatkan tekanan pada kulit di sekitarnya, semuanya dapat menjadi jalan masuk bagi infeksi yang lebih serius pada seseorang dengan sirkulasi darah yang terganggu dan berkurangnya sensasi. Ini bukan sekadar masalah kosmetik, melainkan masalah klinis.
Alas kaki juga sama pentingnya. Sepatu yang terlalu sempit, terlalu longgar, atau memiliki jahitan bagian dalam yang menimbulkan gesekan pada kulit yang mati rasa merupakan salah satu penyebab utama luka akibat tekanan dan lepuhan pada penderita neuropati diabetik. Podiatris dapat memberikan saran mengenai alas kaki yang tepat, dan jika terdapat kelainan bentuk kaki atau distribusi tekanan yang tidak normal, penggunaan ortotik khusus mungkin diperlukan.
3. Gula Darah dan Kontrol Metabolik: Fondasi yang Menentukan Segalanya
Mengelola kadar gula darah merupakan langkah awal, tetapi bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Dampak diabetes terhadap tubuh dalam jangka panjang tidak hanya bergantung pada apakah kadar glukosa terkontrol, tetapi juga seberapa konsisten pengendaliannya dan bagaimana kesehatan metabolik secara keseluruhan dikelola secara bersamaan.
HbA1c: Pemeriksaan yang Paling Penting
HbA1c adalah pemeriksaan darah yang mencerminkan rata-rata kadar gula darah selama dua hingga tiga bulan sebelumnya. Pemeriksaan ini merupakan indikator pengelolaan diabetes yang lebih bermakna dibandingkan satu kali pemeriksaan gula darah, karena menggambarkan pola pengendalian gula darah, bukan hanya kondisi pada satu waktu tertentu. Sebagian besar pedoman klinis merekomendasikan target HbA1c di bawah 7% untuk sebagian besar orang dewasa dengan diabetes, meskipun target setiap pasien ditentukan secara individual melalui konsultasi dengan dokter spesialis berdasarkan usia, kondisi kesehatan lainnya, serta risiko hipoglikemia (gula darah rendah).
Setiap penurunan HbA1c sebesar satu persen memberikan manfaat yang signifikan dalam mengurangi risiko komplikasi. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan HbA1c sebesar 1% secara berkelanjutan dikaitkan dengan penurunan risiko komplikasi terkait diabetes sebesar 21%, serta penurunan risiko komplikasi mikrovaskular secara khusus sebesar 37%, yang mencakup retinopati diabetik dan neuropati perifer diabetik. Inilah alasan mengapa kontrol metabolik yang konsisten bukan hanya tentang bagaimana kondisi Anda hari ini, tetapi juga tentang bagaimana kesehatan mata, kaki, dan ginjal Anda dalam sepuluh tahun mendatang.
Peran Dokter Spesialis Endokrinologi
Dokter umum memiliki peran penting dalam diagnosis awal dan pengelolaan diabetes tipe 2 secara berkelanjutan. Namun, ketika kadar gula darah sulit dikendalikan dengan obat oral standar, ketika terapi insulin diperlukan, ketika terdapat faktor yang memperumit kondisi seperti penyakit tiroid, obesitas, atau sindrom metabolik yang signifikan, atau ketika komplikasi mulai muncul meskipun pengendalian gula darah cukup baik, rujukan kepada dokter spesialis endokrinologi dan diabetologi dapat memberikan pemeriksaan dan penanganan spesialis yang lebih menyeluruh.
Dokter spesialis endokrinologi menangani kompleksitas kesehatan hormonal dan metabolik secara menyeluruh. Dalam konteks diabetes, hal ini mencakup optimalisasi pengobatan, penanganan penyakit penyerta yang memengaruhi kontrol gula darah (termasuk gangguan tiroid yang lebih umum terjadi pada penderita diabetes tipe 2 dibandingkan populasi umum), serta mendampingi pasien selama periode kontrol gula darah yang buruk, yang dapat terjadi pada banyak orang selama menjalani pengelolaan kondisi kronis.
Tekanan Darah, Kolesterol, dan Fungsi Ginjal
Diabetes biasanya tidak datang sendiri. Hipertensi dan dislipidemia (kadar kolesterol dan lipid yang tidak normal) ditemukan pada sebagian besar penderita diabetes tipe 2, dan masing-masing secara independen meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, serta komplikasi pembuluh darah yang memengaruhi mata dan kaki. Mengelola kondisi-kondisi ini secara bersamaan dengan kadar gula darah, bukan menanganinya secara terpisah, merupakan pendekatan yang benar-benar dapat mengurangi risiko komplikasi jangka panjang.
Fungsi ginjal (yang dipantau melalui eGFR dan rasio albumin-kreatinin urine) juga perlu diperiksa secara rutin. Nefropati diabetik diperkirakan memengaruhi sekitar 40% penderita diabetes sepanjang hidup mereka dan, seperti retinopati, sebagian besar tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Pemeriksaan darah dan urine secara rutin yang dilakukan berdasarkan anjuran dokter umum atau dokter spesialis dapat membantu mendeteksi perubahan awal pada ginjal sebelum fungsinya mengalami gangguan yang signifikan.
Mengapa Perawatan Multidisiplin Sangat Penting
Komplikasi diabetes tidak terjadi secara terpisah satu sama lain. Mekanisme yang sama yang merusak pembuluh darah retina juga dapat merusak pembuluh darah kecil di kaki. Kontrol gula darah yang buruk juga dapat memperburuk neuropati serta mempercepat perkembangan katarak dan penyakit ginjal. Pasien yang mendapatkan pengelolaan gula darah yang baik dari dokter spesialis endokrinologi tetapi belum pernah menjalani pemeriksaan mata dengan dilatasi pupil atau pemeriksaan kaki secara menyeluruh belum sepenuhnya mendapatkan perawatan yang komprehensif, dan hal ini bukanlah kesalahan mereka.
Model pengelolaan diabetes yang paling efektif adalah ketika dokter spesialis endokrinologi, dokter spesialis mata, podiatris, dan dokter umum saling mengetahui hasil pemeriksaan masing-masing serta bekerja berdasarkan pemahaman yang sama mengenai profil risiko pasien secara keseluruhan. Inilah yang ingin diwujudkan melalui perawatan spesialis yang terkoordinasi dalam jaringan seperti Healthway Medical.
Ringkasan Praktis: Hal yang Perlu Dimiliki Setiap Penderita Diabetes
Terlepas dari seberapa baik diabetes Anda saat ini terkontrol, hal-hal berikut merupakan dasar dalam mencegah komplikasi:
- Pemeriksaan mata dengan dilatasi pupil setiap tahun bersama dokter spesialis mata untuk mendeteksi retinopati, perubahan pada makula, katarak, dan glaukoma.
- Skrining kaki diabetik setiap tahun bersama podiatris, yang mencakup pemeriksaan sirkulasi, sensasi, kondisi kulit dan kuku, serta penilaian alas kaki.
- Pemeriksaan HbA1c secara rutin (biasanya setiap tiga hingga enam bulan), dengan target yang ditentukan oleh dokter umum atau dokter spesialis endokrinologi yang menangani Anda.
- Pemantauan tekanan darah dan kadar lipid bersamaan dengan pengendalian gula darah, mengingat adanya keterkaitan risiko kardiovaskular.
- Pemantauan fungsi ginjal melalui pemeriksaan eGFR dan albumin urine setiap tahun.
- Pemeriksaan kaki sendiri setiap hari, termasuk sela-sela jari dan telapak kaki, serta segera memeriksakan setiap luka pada kulit, kemerahan, atau pembengkakan.
- Pemeriksaan oleh dokter spesialis jika kontrol sulit dicapai atau terdapat kecurigaan komplikasi, termasuk rujukan ke dokter spesialis endokrinologi jika penanganan oleh dokter umum saja belum mencapai kontrol yang memadai.
Mendeteksi Masalah Sebelum Menjadi Lebih Serius
Diabetes merupakan kondisi yang membutuhkan pengelolaan secara konsisten dan proaktif. Komplikasi yang ditimbulkannya bukanlah sesuatu yang pasti terjadi. Risikonya dapat dikurangi secara signifikan ketika kesehatan mata, kaki, dan kondisi metabolik dipantau secara rutin oleh dokter spesialis yang memahami apa yang perlu diperhatikan sebelum gejala muncul.
Jika Anda hidup dengan diabetes dan belum menjalani pemeriksaan mata diabetik, pemeriksaan kesehatan kaki secara menyeluruh, atau evaluasi metabolik oleh dokter spesialis baru-baru ini, kami dapat membantu. Dokter spesialis endokrinologi dan diabetologi serta tim oftalmologi Nobel Medical tersedia untuk konsultasi, sementara Straits Podiatry menyediakan pemeriksaan kaki diabetik khusus di berbagai klinik di Singapura.

Penulis: Mr Jackie Tey
Chief Podiatrist di Straits Podiatry
Mr Tey adalah podiatris di Singapura dengan fokus klinis pada biomekanika tungkai bawah, nyeri tumit, dan rehabilitasi fungsional. Ia bekerja sama dengan dokter umum dan tenaga kesehatan terkait untuk membantu pasien dengan masalah kaki yang kompleks dan menetap.