Penyakit Crohn adalah penyakit radang usus kronis (inflammatory bowel disease/IBD) yang menyebabkan kerusakan pada saluran pencernaan.
Berbeda dengan kondisi pencernaan lain yang hanya memengaruhi permukaan usus, penyakit Crohn dapat melibatkan lapisan dinding usus yang lebih dalam. Penyakit ini dapat menyerang bagian mana pun dari saluran pencernaan, mulai dari mulut hingga anus, meskipun paling sering terjadi pada bagian akhir usus halus dan usus besar (kolon).
Peradangan pada penyakit Crohn terjadi secara tidak merata dan terputus-putus. Bagian usus yang sehat biasanya terdapat di antara area yang mengalami peradangan. Kedalaman peradangan akibat penyakit Crohn juga dapat bervariasi, mulai dari permukaan luar saluran pencernaan hingga lapisan dinding usus yang lebih dalam.
Kerusakan mendalam pada dinding usus menjelaskan mengapa sebagian penderita penyakit Crohn dapat mengalami komplikasi, seperti penyempitan usus, abses, atau saluran abnormal yang dikenal sebagai fistula.
Penyakit Crohn yang sedang aktif dengan gejala dan peradangan disebut fase kekambuhan (flare). Ketika penyakit terkendali dan berada dalam kondisi tenang dengan bantuan terapi, kondisi ini disebut remisi.

Seperti Apa Gejala Penyakit Crohn?
Penyakit Crohn tidak memengaruhi setiap orang dengan cara yang sama.
Pada sebagian orang, tanda awalnya mungkin berupa diare yang sering terjadi. Pada orang lain, kondisi ini dapat diawali dengan nyeri perut berulang, kelelahan tanpa penyebab yang jelas, atau penurunan berat badan secara bertahap.
Gejala yang mungkin terjadi meliputi:
Penyakit Crohn juga dapat menyebabkan masalah di luar sistem pencernaan, termasuk nyeri sendi, perubahan pada kulit, dan peradangan pada mata. Kondisi-kondisi ini selalu terjadi bersamaan dengan penyakit pada usus dan tidak pernah muncul secara terpisah tanpa melibatkan saluran pencernaan.
Mengalami salah satu gejala tersebut tidak serta-merta berarti Anda menderita penyakit Crohn. Hal yang penting adalah pola gejala secara keseluruhan, berapa lama gejala berlangsung, serta apakah terdapat tanda-tanda peradangan atau masalah mendasar lainnya.
Kapan Nyeri Perut Perlu Diperiksa Lebih Lanjut?
Nyeri perut merupakan keluhan yang umum terjadi, tetapi gejala yang berulang atau menetap mungkin memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Lokasi nyeri perut dapat memberikan petunjuk yang berguna, tetapi biasanya tidak cukup untuk menentukan penyebabnya secara pasti. Dokter spesialis gastroenterologi biasanya akan menilai kondisi secara menyeluruh dengan mengajukan pertanyaan seperti:
- Di bagian mana tepatnya nyeri terasa?
- Apakah nyeri muncul sebelum atau sesudah makan?
- Apakah nyeri mereda setelah buang air besar?
- Apakah nyeri membangunkan Anda saat tidur malam?
- Apakah nyeri disertai diare, perdarahan, atau demam?
- Apakah berat badan Anda menurun?
- Apakah kebiasaan buang air besar Anda berubah?
- Apakah Anda baru saja bepergian atau mengonsumsi antibiotik?
- Apakah ada riwayat penyakit radang usus dalam keluarga?
Pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu mempersempit kemungkinan penyebab dan menentukan pemeriksaan apa yang mungkin diperlukan.
Nyeri perut perlu mendapat perhatian lebih jika terus berulang, berlangsung selama berminggu-minggu, membangunkan Anda saat tidur, atau disertai diare berkepanjangan, perdarahan, demam, maupun penurunan berat badan.
Gejala tersebut tidak selalu mengarah pada penyakit Crohn. Gejala serupa dapat disebabkan oleh infeksi usus, sindrom iritasi usus besar (irritable bowel syndrome), penyakit celiac, kolitis ulseratif, tukak akibat obat-obatan, dan gangguan pencernaan lainnya.
Oleh karena itu, tugas dokter spesialis gastroenterologi bukan sekadar mengatasi “nyeri perut”, melainkan mencari tahu penyebab nyeri tersebut dan menentukan apakah terdapat kondisi yang memerlukan penanganan khusus.
Apa Perbedaan Penyakit Crohn dan IBS?
Penyakit Crohn dan sindrom iritasi usus besar (irritable bowel syndrome/IBS) sama-sama dapat menyebabkan nyeri perut dan perubahan kebiasaan buang air besar, tetapi keduanya merupakan kondisi yang berbeda.
- ✓ Penyakit Crohn merupakan kondisi peradangan ketika sistem kekebalan tubuh menyebabkan peradangan berkelanjutan pada saluran pencernaan. Seiring waktu, peradangan dapat menyebabkan kerusakan usus.
- ✓ IBS memengaruhi fungsi usus dan dapat menyebabkan gejala seperti rasa tidak nyaman pada perut, kembung, serta perubahan pola buang air besar, tetapi tidak menyebabkan peradangan atau kerusakan usus yang terlihat.
Gejala yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan tidak boleh langsung dianggap sebagai IBS meliputi:
- Darah atau lendir dalam tinja
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
- Demam
- Anemia
- Gejala yang membangunkan Anda saat tidur malam
- Diare berkepanjangan
Keracunan makanan, IBS, dan penyakit radang usus (inflammatory bowel disease/IBD) dapat memiliki gejala yang serupa, seperti nyeri perut dan diare. Namun, IBD cenderung berlangsung lebih lama dan dapat disertai darah atau lendir dalam tinja.
Pemeriksaan diperlukan ketika gejala atau tanda peringatan membuat penyebabnya belum dapat dipastikan.
Pemeriksaan Apa Saja yang Dapat Digunakan untuk Mendeteksi Penyakit Crohn?
Pemeriksaan yang direkomendasikan bergantung pada gejala yang Anda alami.
1. Tes Darah
Tes darah dapat digunakan untuk memeriksa:
- Anemia
- Tanda-tanda peradangan
- Infeksi
- Kadar zat besi atau vitamin yang rendah
Hasil tes darah yang normal tidak menyingkirkan kemungkinan penyakit Crohn. Jika penyakit Crohn dicurigai, dokter spesialis gastroenterologi dapat meminta pemeriksaan antibodi anti-Saccharomyces cerevisiae, protein C-reaktif (CRP), laju endap darah (LED), hitung darah lengkap, kadar zat besi, vitamin B12, folat, serta tes fungsi hati. Pemeriksaan tuberkulosis dan hepatitis B juga sering diminta karena pengobatan penyakit Crohn dapat dipengaruhi oleh ada atau tidaknya kedua kondisi tersebut.
Sebagian pasien mengalami peradangan ringan yang terbatas pada area usus yang lebih kecil sehingga tidak terlalu memengaruhi penanda peradangan dalam darah.
2. Tes Feses
Sampel feses dapat diperiksa untuk mendeteksi infeksi, perdarahan, atau tanda-tanda peradangan usus.
Salah satu pemeriksaan yang sering digunakan adalah kalprotektin feses. Pemeriksaan ini mengukur protein yang dilepaskan ketika terjadi peradangan di usus. Kadar yang meningkat dapat mengindikasikan adanya peradangan, tetapi tidak memastikan diagnosis penyakit Crohn. Pemeriksaan ini juga digunakan untuk menilai respons terhadap pengobatan setelah terapi dimulai.
Infeksi dan kondisi peradangan lainnya juga dapat meningkatkan kadar kalprotektin. Pemeriksaan feses lainnya meliputi panel pemeriksaan GI PCR multiplex dan tes untuk mendeteksi infeksi Clostridioides difficile.
3. Kolonoskopi
Kolonoskopi merupakan pemeriksaan penting ketika penyakit Crohn dicurigai.
Selama kolonoskopi, dokter spesialis gastroenterologi menggunakan kamera tipis dan fleksibel untuk memeriksa lapisan usus besar serta bagian akhir usus halus. Sampel jaringan kecil yang disebut biopsi diambil untuk dianalisis lebih lanjut.
Kolonoskopi dapat membantu dokter menilai:
- Area mana yang mengalami peradangan
- Apakah peradangan muncul pada beberapa area yang terpisah
- Apakah terdapat tukak
- Bagian usus mana yang mengalami penyempitan (striktur)
- Apakah temuan pemeriksaan mengarah pada penyakit Crohn atau kondisi lainnya
4. Endoskopi Kapsul

Endoskopi kapsul dilakukan dengan menelan kapsul yang berisi kamera video kecil. Kamera tersebut mengambil gambar saat melewati saluran pencernaan. Endoskopi kapsul merupakan pemeriksaan yang sangat baik untuk usus halus, tetapi tidak cocok untuk semua pasien dengan penyakit Crohn. Penyempitan pada usus halus dapat membuat pemeriksaan ini tidak sesuai karena kapsul mungkin tidak dapat melewati area tersebut. Dokter spesialis gastroenterologi dapat menilai apakah pemeriksaan ini diperlukan dan aman untuk dilakukan.
5. Enterografi MRI
Penyakit Crohn sering menyerang usus halus, yang terletak cukup dalam di dalam tubuh sehingga tidak dapat diperiksa sepenuhnya melalui kolonoskopi.
Enterografi MRI digunakan untuk memeriksa usus halus dan jaringan di sekitarnya. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi peradangan, penyempitan, abses, atau fistula pada area yang tidak dapat dijangkau oleh endoskop.
Mengapa Lokasi Penyakit Crohn Penting?
Penyakit Crohn dapat menyerang berbagai bagian saluran pencernaan. Lokasi terjadinya peradangan sering kali memengaruhi gejala yang Anda alami, pemeriksaan yang diperlukan, dan pengobatan yang direkomendasikan.
| Lokasi penyakit Crohn | Gejala yang mungkin dialami | Mengapa hal ini penting |
|---|---|---|
| Usus halus | Nyeri perut, penurunan berat badan, anemia, kelelahan, atau kekurangan nutrisi | Mungkin memerlukan enterografi atau endoskopi kapsul. Enteroskopi balon mungkin diperlukan untuk mengambil sampel jaringan. |
| Usus besar (kolon) | Diare berkepanjangan, dorongan mendesak untuk buang air besar, darah atau lendir dalam tinja | Kolonoskopi diperlukan untuk menilai peradangan dan mengambil sampel biopsi. |
| Area sekitar anus (penyakit Crohn perianal) | Nyeri, pembengkakan, abses, fistula, atau keluarnya cairan bernanah | Gejala ini dapat muncul sebelum gejala pada usus dan sering kali memerlukan evaluasi dini oleh dokter spesialis. |
Memahami lokasi peradangan membantu dokter spesialis gastroenterologi memilih pemeriksaan yang paling sesuai, merekomendasikan pengobatan yang tepat, dan memantau kondisi Anda secara lebih efektif.
Bagaimana Penyakit Crohn Ditangani?
Pengobatan tidak hanya didasarkan pada gejala.
Sebelum merekomendasikan pengobatan, dokter spesialis gastroenterologi akan mempertimbangkan:
- Lokasi peradangan
- Tingkat aktivitas dan keparahan penyakit
- Ada tidaknya penyempitan usus atau komplikasi di luar saluran pencernaan
- Apakah pasien pernah tidak merespons pengobatan lain sebelumnya
- Efek samping pengobatan
- Cara pemberian obat
- Preferensi pasien dan kebutuhan sehari-hari
Tujuan pengobatan adalah mengendalikan peradangan, mengurangi gejala, mendukung pemulihan jaringan usus, dan menurunkan risiko komplikasi di masa mendatang.
Tersedia berbagai pilihan pengobatan untuk penyakit radang usus. Sebagian berupa tablet, sedangkan yang lain diberikan melalui suntikan. Suntikan dapat diberikan sendiri oleh pasien di rumah atau melalui infus selama kunjungan singkat ke rumah sakit tanpa perlu rawat inap semalam. Beberapa obat perlu dikonsumsi setiap hari, sedangkan obat lainnya mungkin hanya diberikan setiap dua bulan sekali.
Obat-obatan yang digunakan mencakup terapi seperti infliximab, adalimumab (misalnya Humira, Amgevita), ustekinumab (misalnya Stelara, Steqeyma), upadacitinib (misalnya Rinvoq), vedolizumab (misalnya Entyvio), risankizumab (misalnya Skyrizi), guselkumab (misalnya Tremfya), dan obat lainnya. Pengobatan selalu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Berbagai faktor dipertimbangkan sebelum memilih terapi yang paling sesuai.
Kapan Sebaiknya Anda Berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Gastroenterologi?
Anda sebaiknya mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis gastroenterologi jika mengalami:
- Nyeri perut yang terus berulang
- Diare yang berlangsung lebih dari beberapa minggu
- Darah atau lendir dalam tinja
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
- Kelelahan berkepanjangan atau anemia
- Nyeri, pembengkakan, atau keluarnya cairan dari area sekitar anus
- Gejala gangguan usus yang membangunkan Anda saat tidur malam
- Gejala yang terus berlanjut meskipun telah menjalani pengobatan awal
Segera cari pertolongan medis jika Anda mengalami nyeri perut hebat, muntah berulang, pembengkakan perut yang nyata, perdarahan dari rektum, pingsan, demam tinggi, atau tidak dapat buang air besar maupun mengeluarkan gas.
Buat Janji TemuPertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Ya. Sebagian orang mengalami nyeri perut, diare, penurunan berat badan, kelelahan, atau anemia tanpa disertai adanya darah.
Hal ini lebih mungkin terjadi jika penyakit tersebut menyerang usus halus, bukan usus besar.
Gejala awal bisa tampak serupa, terutama ketika diare dan nyeri perut muncul secara tiba-tiba.
Keracunan makanan umumnya berlangsung singkat, sedangkan penyakit radang usus lebih cenderung menunjukkan pola yang berkepanjangan. Adanya darah, lendir, penurunan berat badan, atau gejala yang berlanjut melampaui masa pemulihan yang diperkirakan mungkin memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Kolonoskopi umum dilakukan karena area tersebut sering kali terdampak oleh penyakit Crohn. Prosedur ini memungkinkan dokter untuk memeriksa usus besar, melihat sebagian usus halus, dan mengambil sampel biopsi. Oleh karena itu, semua pasien dengan penyakit Crohn akan memerlukan kolonoskopi.
Penilaian menyeluruh bergantung pada lokasi yang dicurigai sebagai tempat penyakit berada. Beberapa pasien mungkin juga memerlukan pemeriksaan tambahan berupa tes tinja, pemindaian, dan pemeriksaan usus halus.
Saat ini belum ada obat penyembuhnya, namun pengobatan dapat mengurangi peradangan, mengendalikan gejala, dan membantu pasien mempertahankan kondisi remisi.
Dalam kondisi remisi yang mendalam, banyak orang tetap dapat bekerja, bepergian, melakukan aktivitas sehari-hari, dan menjalani kehidupan yang normal.
Tidak semua penderita penyakit Crohn perlu menghindari serat.
Saat terjadi kekambuhan atau penyempitan usus yang signifikan, makanan tinggi serat dapat memperparah nyeri atau menyebabkan penyumbatan usus. Di luar kondisi tersebut, pembatasan asupan yang tidak perlu dapat menyulitkan upaya menjaga pola makan seimbang.
Saran mengenai pola makan didasarkan pada lokasi dan karakteristik penyakit serta toleransi masing-masing pasien.
Gejala dan peradangan tidak selalu muncul secara bersamaan.
Sebagian penderita penyakit Crohn mungkin tetap mengalami nyeri perut, diare, atau perubahan pola buang air besar, meskipun peradangan tampak terkendali. Pemeriksaan lebih lanjut dapat membantu menentukan apakah gejala tersebut disebabkan oleh peradangan aktif atau faktor lain.
Penyakit Crohn biasanya dievaluasi dan ditangani oleh dokter spesialis gastroenterologi, yaitu dokter yang memiliki keahlian dalam menangani kondisi yang memengaruhi sistem pencernaan.
Dr Eric Wee adalah Dokter Spesialis Gastroenterologi Konsultan Senior di Nobel Gastroenterology Centre, yang berlokasi di Mount Elizabeth Novena. Beliau memiliki pengalaman klinis lebih dari 20 tahun. Dr Eric Wee menyelesaikan fellowship endoskopi lanjutan di Asian Institute of Gastroenterology dan menjalani program pelatihan di Mayo Clinic, Amerika Serikat. Beliau sebelumnya pernah menjabat sebagai kepala divisi gastroenterologi di sebuah rumah sakit yang direstrukturisasi serta memberikan layanan konsultasi sebagai dokter tamu di beberapa rumah sakit di Singapura.
Di Nobel Gastroenterology Centre, Dr Wee mengevaluasi berbagai masalah pencernaan dan usus, termasuk nyeri perut, diare berkepanjangan, dan perubahan pada tinja. Layanan yang tersedia meliputi gastroskopi, kolonoskopi, endoskopi kapsul, pemeriksaan fungsi saluran pencernaan, dan pemindaian perut.
Bagi pasien dengan penyakit Crohn, konsultasi tidak hanya bertujuan memastikan diagnosis. Konsultasi juga berfokus pada pemahaman gejala, penentuan bagian saluran pencernaan yang perlu diperiksa, serta penyusunan langkah penanganan yang sesuai.
Dengan banyaknya pilihan pengobatan yang tersedia, pengalaman diperlukan untuk memilih terapi yang paling sesuai bagi setiap pasien. Rencana pengobatan harus dipersonalisasi dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
